Selasa, 04 Februari 2014

Ekspedisi Gunung Sibayak


Gunung Sibayak terletak di perbatasan Kabupaten Karo dan Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Merupakan ikon dari kota kecil nan sejuk, Berastagi, yang tersohor dengan buah jeruk dan markisanya yang khas.


Gunung Sibayak yang berarti Gunung Para Raja memiliki ketinggian 2.094 mdpl. Salah satu favorit bagi para pemula yang merasakan sensasi mendaki gunung. Rasa penasaran untuk mendaki Gunung Sinabung tertahan, karena sedang terjadi erupsi berkepanjangan disana yang juga menyebabkan belasan nyawa melayang terkena awan panas yang sering disebut wedush gembel. Sehingga alternative rute pendakian adalah Gunung Sibayak yang sering juga disebut saudara kembar dari gunung Sinabung.


Jalur pendakian menuju Gunung Sibayak, dapat ditempuh dengan rute sebagai berikut:
  1. Jalur Desa Jaranguda, Medan-Berastagi (60 km ) bisa ditempuh dengan bus sedang Murni, Sitra, Sinabung, atau bus lain jurusan Kota Kaban Jahe, ongkosnya adalah 12rb s.d. 15 rb rupiah dengan waktu tempuh adalah 1 ½ s.d. 2 jam perjalanan. Lalu berhenti di pusat/pasar Kota Berastagi. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan Angkutan bermerk Kama yang berwarna Hijau dengan tujuan Desa Jaranguda dengan ongkos kira-kira 4rb rupiah dengan waktu tempuh 15 s.d. 20 menit. Kalau mau singkat, dari Desa Jaranguda kita bisa sewa angkutan sampai dengan titik awal pendakian dengan tariff 60rb rupiah. Namun kebanyakan pendaki lebih memilih berjalan kaki menuju titik pendakian dengan waktu tempuh 1 ½ s.d. 2 jam melalui jalan aspal yang menanjak tajam.
  2. Jalur Desa Semangat Gunung/Raja Bernah, Medan-Simpang Menuju Lau Debuk-debuk/PLTG Pertamina, kurang lebih 5 km sebelum sampai Kota Berastagi. Kemudian dilanjutkan dengan naik angkutan menuju Desa Semangat Gunung/Raja Bernah. Di desa ini terdapat banyak sekali tempat pemandian air panas/hotspring yang siap memanjakan badan kita selepas mendaki Gunung Sibayak. Dulunya ada Kolam yang luas yang bernama Lau Debuk-debuk sebagai tempat yang masyhur untuk pemandian. Namun sekarang, sudah jarang dipakai oleh masyarakat. Di desa ini, terdapat pula PLTG Pertamina yang nantinya jalur pipanya akan menjadi penunjuk jalan bagi para pendaki sesampai di desa ini. Atau dari simpang Lau Debuk-debuk/PLTG Pertamina, kita bisa memakai jasa kereta (sepeda motor) ojeg dengan tarif 15rb sampai ke Desa Semangat Gunung/Raja Bernah. Karena angkutan ke desa tersebut sangat jarang sekali.Rute pendakian dari Desa Jaranguda dan Desa Semangat Gunung/Raja Bernah akan bertemu ditanjakan tajam sebelum sampai di tempat perkemahan pertama di lereng gunung Sibayak.
  3. Jalur 54, kenapa disebut dengan 54? Karena memang terletak di Km 54 dari Kota Medan menuju Kota Berastagi. Uniknya, jalur ini masih masuk ke wilayah Kec. Sibolangit, Kabupaten Deliserdang. Jalur ini merupakan jalur ekstrem. Waktu tempuhnya adalah 6 s.d. 8 jam perjalanan mendaki s.d ke Puncak Sibayak.
Tepat 31 Januari 2014, bersama teman kantor saya, bang taufan, kami memutuskan mendaki Gunung Sibayak melalui rute Desa Jaranguda. Pukul 14.30 WIB kami berangkat dengan menumpang bus Murni dari Simpang Pos, Kota Medan,  yang merupakan stasiun bus dengan  trayek menuju daerah Berastagi, Kaban Jahe, Sidikalang, atau menuju daerah Aceh seperti Kutacane, Singkil, Subulussalam dan sekitarnya. Kami pun sampai di Kota Berastagi sekitar pukul 16.10 WIB. Dan dilanjutkan dengan menumpang angkutan Kama berwarna Hijau juran Desa Jaranguda. Pukul 17.15 WIB, kami pun sampai di Desa Jaranguda, lalu mengisi buku registrasi dengan membayar tiket 4rb rupiah per orang. Lalu kami memutuskan untuk berjalan kaki sampai dengan titik pendakian dengan waktu tempuh 2 jam perjalanan.




Sesampai di titik pendakian, yaitu tempat perkemahan pertama, kami bingung menentukan titik pendakian berhubung titik pendakian yang biasa sudah longsor dan kebetulan hari sudah sangat gelap. Karena sudah capek dan lelah. Kami memutuskan untuk mendirikan kemah disitu sambil menunggu orang yang akan mendaki sebagai penunjuk jalan.


Sambil menunggu pendaki lain datang, tiba-tiba terlihat dua titik cahaya berwarna merah bergerak kesana kemari terkena lampu senter saya. Rupanya ada seekor kukang yang berkeliaran di sebatang pohon. Saya pun mendekatinya, bersama teman saya. Lalu saya ambil kamera dan berusaha untuk memotonya. Namun hasilnya tetaplah jelek walaupun sudah lumayan jelas keberadaan si kukang di gambar yang saya ambil. J
Dan akhirnya, datanglah rombongan anak SMA Pecinta Alam yang sudah biasa mendaki Gunung Sibayak, dan kami pun sepakat untuk melanjutkan pendakian pada esok, dini hari.



Setelah terbangun, pukul 04.45 kami pun bergerak menuju puncak Sibayak. Jalur menuju puncak lumayan jelas, namun banyak sekali persimpangan dan jalur-jalur alternative, sehingga dibutuhkan kehati-hatian yang ekstra, di samping jalan yang berkabut, ada jurang yang menganga di sisi kiri atau kanan jalur pendakian.
Ketika hampir sampai di kawah Gunung Sibayak, tepatnya di jalur bebatuan, terdapat angin yang sangat kencang yang berasal dari hembusan dari kawah Sibayak dan Angin Pegunungan. Dan Gunung Sibayak ini terkenal dengan Gemuruh yang sangat Kuat yang berasal dari kawahnya. Membuat kami ragu untuk melanjutkan perjalanan. Kami pun memutuskan untuk menunggu rombongan yang lain sebagai penunjuk jalan. Setelah bertemu dengan rombongan yang lain, kami pun memutukan untuk langsung mendaki ke Puncak III, disertai angin yang sangat dingin dan kencang. Setelah bersusah payah mendaki, kami pun sampai di Puncak III, sampai dengan matahari terbit.







Setelah matahari terbit, kami pun turun ke lereng, dan melanjutkan perjalanan ke Puncak II dengan jalan yang sangat terjal. Ketika mendakinya, mungkin sangat mudah. Akan tetapi ketika hendak turun dari Puncak II, dibutuhkan nyali yang sangat besar, karena jalannya yang licin dan mencapai sudut 70 s.d. 80 derajat.






Setelah turun dari Puncak II, kami pun turun ke kawah Sibayak. Dan mengabadikan momen tersebut. Di sekitar kawah, merupakan tempat favorit bagi para pendaki yang ingin mendirikan tenda, bhakan ada yang sampai berhari-hari menginap di tempat tersebut. Dan Puncak I Sibayak disebut dengan Puncak Tapal Kuda, yaitu Puncak Pilar yang sangat curam yang saya belakangi pada foto saya ini, :)








Setelah berdiskusi panjang, kami pun memilih pulang melalui rute menuju Desa Semangat Gunung/Raja Bernah. Kemudian mandi air panas sejenak, lalu pulang ke Medan pada Pukul 13.45 WIB. Lalu tersiar kabar bahwa telah terjadi letusan Gunung Sinabung yang menewaskan belasan nyawa, kemudian Kota Berastagi yang berjarak 20 km dari Gunung Sinabung ikut diguyur hujan abu yang tebal.















*Kelebihan Gunung ini adalah mudahnya akses untuk mendakinya, sehingga cocok untuk pemula, jarak tempuh yang singkat, jalur pendakian yang jelas, dan terdapat pemandian air panas di bawah kaki gunung. Perlu dicatat, naik gunung harus punya prinsip yaitu "pulang dengan selamat". Walaupun gunung Sibayak tergolong mudah didaki, perlu diingat sudah banyak orang yang hilang di gunung ini. Jadi harus tetap menjaga kesopanan dan tidak anggap remeh terhadap gunung ini. Sekian dan Wassalam.

Selasa, 24 September 2013

Kawah Ijen dengan Api Birunya

Di dunia Internasional, kawah ijen sudah tidak asing lagi namanya. Diliput oleh Channel National Geograpic. Dan menjadi bahan pembicaraan oleh khalayak ramai  karena merupakan danau vulkanik air asam terbesar di dunia dan buruh pekerja tambah belerangnya yang heroik. Namun bagi saya, seorang warga Indonesia yang berasal dari Ujung Utara Barat Indonesia belum pernah melihat langsung keunikan kawah tersebut kecuali dari gambar di internet maupun liputan Channel asing tersebut. Terletak diantara pegunungan di ujung timur pulau jawa, Gunung Ijien berdiri dengan megah. Tampak saudara lelakinya (dalam istilahku), Gunung Marapi yang senantiasa setia berdiri dengan gagah di sampingnya tanpa kenal lelah dan tampak pula Gunung Raung agak jauh diseberang dengan Puncak sejatinya.

Berawal dari gagalnya pendakian Gunung Semeru gara-gara kurang administrasi, saya dan teman saya, Boboy Andika Harahap pun banting setir menyusuri sisi indah ujung timur pulau jawa tersebut (02 Juni 2012). Dari Probolinggo (Jalur menuju ke Bromo-Semeru) kami berangkat menuju kota Bondowoso. Sedikit menyimpang, mengingat Bondowoso saya teringat akan nama Bandung Bondowoso penyebab adanya bangunan indah bernama Candi Prambanan. Ha ha ha. Lanjut ke topik pembicaraan.


Sesampai di Bondowoso, ternyata hari sudah sore. Dan kendaraan menuju Pal Tuding pun sudah tidak ada. Kebetulan kami melihat dua orang bule, dan saya menduga mereka punya tujuan yang sama dengan kami. Sestelah berbincang – bincang, kami pun memutuskan untuk menyewa mobil untuk mencapai Pal Tuding. Ternyata mereka dari Perancis, yang sedang berlibur ke Indonesia. Setelah mengobrol – ngobrol, ternyata mereka bekerja sebagai manajer musik yang sedang mengadakan tur dunia.


Tujuan mereka adalah Arabica Homestay, penginapan diantara hamparan perkebunan kopi Arabica di Sempol, dan kami pun melanjutkan perjalanan ke Pal Tuding kira-kira 40 menit dari Sempol. Pal Tuding merupakan gerbang menuju Kawah Ijen. Terdapat warung makan dan penginapan disini, milik warga keturunan Madura. Kami pun melepas rasa rasa lapar dan memilih beristirahat di penginapan (sewa kamar Rp 100.000,-) supaya tubuh fit. Sementara bagi yang memilih tidur di tenda atau pendopo, silahkan saja, asal membawa slepping bag untuk persiapan menantang dinginnya cuaca di daerah tersebut.

Jam 2 malam kami pun sudah bersiap – siap mendaki Gunung Ijen. Waktu tempuh adalah 2 s.d. 3 jam perjalanan. Keberuntungan pun memihak. Langit yang cerah ditemani oleh bulan purnama penuh mengiringi pendakian kali ini. Sesekali para penambang belerang berjalan dengan cepat melewati saya yang sudah mulai terengah – engah mulai kehabihan nafas. “Kuat sekali mereka…!!” diriku membatin. Dengan membawa 50 s.d. 100 kg belerang di pundak mereka untuk sekali angkut.  Dan sampailah kami di pos pengepulan belerang. Pos ini adalah pos untuk pengumpulan belerang sekaligus sebagai pos pemantauan terhadap Gunung Ijen yang memang sangat aktif. Jika Gunung Ijen sedang batuk, maka trek pendakian hanya boleh sampai disini saja.




Perjalanan pun dilanjutkan. Saya merasa sangat tersesat ketika hendak mendekati puncak. Perjalanan tanpa ujung pikirku. Karena asap gunung berapi yang menyengat berbau belerang menghampiri disepanjang jalan membuat diriku berpikir maju mundur. Sudah sampaikah atau masih jauh atau aku lah yang tersesat. Pandangan hanya berkisar kurang lebih 10 meter. Setelah sekian lama terasa, akhirnya kami sampai di puncak Gunung Ijen. Disini kami bertemu dengan rombongan anak Banyuwangi yang sedang mendaki juga.


Hal yang membuat penasaran sehingga mau berangkat pagi – pagi buta ke Puncak Ijen adalah penampakan api biru yang keluar dari dasar kawah. Tampak dari kejauhan api biru tersebut begitu membara. Satu hal yang saya sesalkan adalah kelupaan membawa tripod, sehingga saya tidak bisa mengambil gambar long eksposur. Tapi saya tidak kehilangan akal. Untuk mengabadikan api biru tersebut, saya pun turun ke dasar kawah layaknya para penambang belerang ijen yang berita nya sudah mendunia itu. Dengan peralatan slayer dan senter saya ekstra hati – hati menuruni anak tangga yang sebagiannya sudah mulai hancur. Salah – salah turun, bisa mampus masuk ke jurang. Asap mengepul bak raksasa yang siap memangsa santapannya. Saya berdoa kalau saja asap Gunung Ijen yang berasal dari kawahnya tidak mengarah ke saya. Setelah berjuang menuruni anak tangga, saya pun sampai di dasar kawah. Hanya berjarak 5 meter dari api biru tersebut. Ternyata api biru tersebut tingginya mencapai puluhan meter. Hati saya bergetar melihatnya. Terkadang muncul asap yang begitu pekat. Seandainya saya tidak membawa slayer dari wol sebagai alat bantu penyaring udara pernapasan, maka saya bisa mati lemas disitu. Sungguh mengerikan sekaligus mendebarkan. Ketika mendapatkan momen yang bagus, saya pun mengambil gambar api biru tersebut. di dasar kawah saya bertemu dengan bule dari Belanda yang bernama Dennis van der Heiden dan kenalan lain yang bernama Fahmi Ali Mubarok, orang Bondowoso.






Karena asap yang mengepul tidak karu – karuan, rasa takut mulai menjalari kaki kami. Segera kami bergegas naik. Karena saking paniknya, saya pun berlari duluan meninggalkan mereka di dasar kawah. :D

Kebetulan teman saya, Boboy Andika tidak berani turun ke dasar kawah. Saya pun mencari – cari beliau di puncak, namun tidak ketemu. Saya pun menyusuri puncak Ijen sampai dengan sampai ke sebuah Pos Pemantauan yang dibuat bekerja sama dengan salah satu universitas dari Brussel, Belgia.



Hari pun perlahan – lahan mulai terang. Tampak dari  kejauhan matahari mulai menampakkan dirinya yang mulanya malu – malu mengitip dibalik awan yang memutih. Keperkasaan Gunung Marapi sebagai saudara laki – laki nya Gunung Ijen yang cantik menambah suasana romantis yang muncul di pagi tersebut. Selat Bali pun terlihat dari sini.



Saya pun kembali ke bawah. Ditengah perjalanan saya bertemu dengan spot – spot bagus. Dan berfoto dengan salah seorang turis dari Jepang. Di sepanjang jalan turun ke bawah saya mendapati banyak turis yang baru mulai mendaki ke Puncak Ijen. Sesampai di Pos pengamatan bawah, saya pun membeli  oleh – oleh berupa belerang ukir. Dan akhirnya saya bertemu kembali dengan Boboy Andika Harahap di Penginapan Pal Tuding.






Ketika hendak mau pulang ke Bondowoso, kami bertemu dengan mas bro Fahmi Ali Mubarok dan Dennis yang berkebetulan membawa mobil pick up. Kami pun menumpang ikut. Di tengah jalan kami berhenti di sebuah air terjun. Airnya berwarna hijau dan sangat asam. Kalau ada luka sedikit, maka terasa sangat perih kalau terkena kulit. Air sungai tersebut telah bercampur dengan limpahan air kawah Gunung Ijen.



Setelah tiba di Bawean, kami pun berhenti lagi. Terdapat air terjun yang bersembunyi dibalik bukit dan dan jurang. Uniknya bisa dinikmati melalui celah yang terdapat di antara bukit – bukit yang terdapat di daerah tersebut. Sehabis  menikmati panorama air terjun, kami pun melepas lelah di sebuah pemandian air panas.
Setelah mandi air panas, kami pun bergegas pulang dan mampir sebentar di salah satu pabrik kopi dan membeli kopi luwak yang original buat si bule Dennis. Lelucon yang keluar dari mulut si bule adalah kopi luwak disebutnya sebagai “SHIT COFFEE” karena memang keluar dari pa*tatnya si luwak. :D



Dan akhirnya sampai di Bondowoso. Setelah beramah tamah sebentar, Saya dan Boboy pun kembali ke Surabaya. jalur lain menuju Kawah Ijen adalah melalui Surabaya - Banyuwangi - Licin - Pal tuding. Kalau sampai di Bondowoso atau Banyuwangi tidak kesorean, maka bisa menumpang truk pengangkut sayur dan berhenti di Paltuding atau dilanjutkan dengan ojeg. Thanks to Fahmi Ali Mubarok atas tumpangan dan jamuan makan siang di Bondowoso dan adek - adek di Alkamil Jawa divisi Surabaya