Rabu, 31 Januari 2018

Setting Manual Kamera DSLR

Setting Manual Kamera DSLR

Untuk Foto bulan Purnama:

Pertama, cari tahu fase Bulan
Periksa kalender lunar untuk melihat fase Bulan apa hari ini. Anda juga bisa mengunjungi situs web seperti Moonconnection.com atau Moongiant.com untuk mengetahui fase Bulan hari ini. Dengan mengetahui fase Bulan, Anda jadi tahu kapan Bulan terbit dan di mana posisi Bulan yang akan Anda potret.
Kedua, makin di-zoom makin bagus
Lensa zoom sangat penting untuk menangkap detail permukaan Bulan. Lensa Sigma 50-500mm dirasa sudah sangat ideal. Ditambah sebuah tripod untuk menjaga kamera Anda agar berdiri kokoh, dan tentunya gunakan juga shutter release cable untuk mengurangi getaran saat memotret tombol kamera. Anda juga bisa memakai Timer.
Ketiga, atur kamera
Jika sudah tahu fase Bulan dan persiapan lain di atas, saatnya atur kamera! Atur kamera ke mode Manual. Ketika memilih pengaturan kamera Anda, ada dua faktor penting untuk diingat: pertama, Bulan sangat terang, sehingga pilih ISO yang rendah. Kedua, Bulan bergerak lambat, sehingga kecepatan rana harus diatur sedemikian pas. Kami memilih 1/200 detik, f/10 dan ISO 100 atau 200.
Keempat, atur fokus dan jepret!
Bulan tidak akan memenuhi seluruh frame, sehingga Anda harus mengatur fokusnya terlebih dahulu. Ketika sudah fokus, tekan tombol shutter dan lepaskan kamera sebelum mengambil jepretan pertama. Gunakan layar LCD pada kamera untuk melihat hasil potretnya.
Dan, that's it! Foto Bulan pertama Anda telah jadi. Anda tinggal atur hasil jepretan Anda dengan aplikasi penyunting foto yang Anda telah miliki. Untuk gambar yang lebih artistik, direkomendasikan untuk mencari suatu objek yang dapat muncul di depan Bulan. Sebuah pohon, bangunan atau garis pagar adalah beberapa di antaranya.
Kalau pakai Tripod :
o ISO 100-200
o Aperture f/11 – F14
o Shutter (Rana) 1/125 – 1/250
Kalau digenggam :
o ISO 800-1000
o Aperture f/8 – 9
o Shutter (Rana) 1/1000 – 1/1500

Untuk Foto Sunset dan Sunrise:

Mode Eksposur / Exposure Mode : Gunakan MANUAL
Fokus : Gunakan MANUAL juga, terkadang ketika menggunakan AUTO fokus pada saat memotret sunset bagian yang terfokus bukanlah bagian yang kita harapkan.
Kecepatan Shutter / Shutter Speed : Atur pada angka 1/30 detik atau lebih lama.
Apertur : Gunakan Aperture pada f / 16
Kesensitifan Sensor Terhadap Cahaya / ISO : Gunakan angka 100 atau lebih rendah (disesuaikan dengan kondisi saja)
Rekomendasi Lensa yang Digunakan : Lensa dengan ukuran 18-24 milimeter (mm)
Drive Mode : Gunakan shot tunggal, atau sering disebut Single Shot.
Pengaturan WB (White Balance) : Karena sunset dan sunrise identik, anda bisa menggunakan Preset WB “Daylight”.
Rekomendasi Filter Lensa yang Digunakan : Gunakan filter ND (Neutral Density)
Foto Sunset dan Sunrise diambil dengan memanfaatkan “Golden Hour / Golden Time” sehingga terlihat keemasan.
Pengertian Golden Time / Golden Hour dalam fotografi adalah waktu dimana langit memancarkan cahaya keemasan yang lembut, waktu-waktu emas ini sekitar 1 jam sebelum matahari terbenam.
Kemudian golden time ini ada yang menyebutkan muncul sekitar jam 7.00 sampai 9.00 pagi hari, sedangkan untuk sore hari sekitar jam 16.00 – jam 17.00 / 1 jam sebelum sunset.
Cahaya saat golden time memiliki karakter lembut dan tidak berlebihan, sangat pas untuk anda yang suka dengan foto romantis nan dramatis.

Untuk Foto Kembang Api:

Lebih baik gunakan mode manual eksposur, dan untuk kondisi pemotretan kembang api pada umumnya, pakai setting eksposur berikut: Kecepatan kembang api normal: Aperture F/16 –  Shutter 2 detik dan ISO 100 atau Aperture: f/14 – shutter 2 detik dan ISO 200; Kembang api rentetan cepat: Aperture: f/18 – Shutter 1.25 detik dan ISO 100
Tripod Wajib Dipakai
Gunakan Resolusi Terbesar Kamera Agar Foto Kembang Api Anda Oke Di Crop
Matikan Autofokus
Pakai Self Timer/ Release (kabel atau wireless)
Matikan Flash
Memotretlah Sebanyak – banyaknya
Pakai Mode BULB pada kamera DSLR (Altenative) : 
o Speed: BULB (sekitar 3-4 detik)
o Diafragma: f8
o ISO: 400

Untuk Foto Slowspeed/ Speed Cepat:

1. Shutter Speed Kreatif  Pada Foto Landscape: Air Terjun
Setting kamera : f/22, 2,5 detik, ISO 100, 22mm
Pakailah Filter ND
Gunakan Tripod
2. Shutter Speed Kreatif Pada Foto Landscape: Jejak Lampu
Setting kamera : f/16, 30 detik, ISO 100, 35mm
Gunakan Tripod
3. Shutter Speed Kreatif Pada Foto Landscape: Buih Laut/Aliran Air Sungai
Setting kamera : f/8, 10 detik, ISO 200, 26mm ; f/11, 10 detik, ISO 100, 55mm ; f/8, 25 detik, ISO 200, 23mm
Pakailah Filter ND
Gunakan Tripod
4. Shutter Speed Kreatif Pada Foto Landscape: Membekukan Ombak
Setting kamera : f/3.5, 1/300 detik, 75mm ; f/3.5, 1/1600 detik, iso 100, 190mm
5. Shutter Speed Kreatif Pada Foto Landscape: Foto Star Trail
Setting kamera : f/2.8, 1200 detik x 3 stacking, ISO 100, 
Gunakan lensa fisheye.

Catatan : Settingan yang ada disini hanyalah pandual awal yang saya sadur dari berbagai sumber untuk memudahkan belajar untuk fotografi menggunakan DSLR. Jika rekan-rekan sekalian ingin ber eksplorasi lebih mantap, silahkan berkreasi dengan menambah atau menguragi nilai settingan eksposure atau kreatifitas yang lainnya. semoga bermanfaat.

Senin, 29 Januari 2018

Penanganan Penyakit Bells Palsy

Pada akhir September 2017, cerita ini bermula. Seperti biasa pada saat siang menjelang sore hari istri saya memakan gorengan yang biasa saya beli pada siang harinya. Kemudian istri saya mengalami keluhan yang aneh pada setengah lidahnya, tepatnya pada lidah sebelah kanan setelah mengkonsumsi gorengan tersebut. Setelah pulang pulang dari kantor saya mendapatkan cerita bahwa keanehan tersebut pun terjadi. Karena mengira itu adalah karena keracunan, saya pun menyarankan istri saya untuk meminum air lebih banyak untuk melihat reaksi yang terjadi beberapa selang waktu hingga malam hari pun tiba. Dan saya suruh juga untuk meminum susu cair asli BearBrand supaya racun tersebut bisa tergenalisir dengan cepat. Oh iya, kebetulan suhu pada saat itu adalah berkisar cukup dingin menggigil untuk daerah pinggiran pantai yang kami tinggali. Dan sebelumnya, istri saya juga mengalami gejala gangguan hidung tersumbat di sebelah kanan. Namun gejala sumbatan hidungnya pun sudah berlangsung sekitar 4 hari.
Malam hari pun tiba, tiba-tiba bahagian bibir bawah istri saya tidak bergerak dengan sempurna. Apakah ini gejala stroke?? Kebetulan saya mempunyai obat stroke yang sangat ampuh (bagi yang berminat hubungi saya melalui komen di blog ini). Saya sarankan istri saya untuk memakannya, hingga esok hari pun tiba. Ternyata obat yang saya kasih tersebut tidak bereaksi apa-apa (padahal sudah banyak orang yang stroke berat tidak bisa berjalan, malah bisa sembuh 98% sehingga bisa berjalan dengan obat tersebut), dan malah bertambah lagi gangguan simetris dari wajah sebelah kanan istri saya. Semakin melebar ketidak mampuan syaraf motorik nya mengontrol bahagian tersebut. Akhirnya saya pun mencari-cari informasi di internet apakah gerangan penyakit tersebut.
Tiba-tiba saya melihat ada penyakit syaraf yang disebut dengan Bells Palsy. Oh Bells Palsy rupanya. Saya pun membaca beberapa referensi mengenai Bells Palsy ini. Teringat Bells Palsy, pernah dunia entertainment dan birokrasi pemerintah dihebohkan dengan pemberitaan bahwa artis terkenal yang pada saat sebelum 2016 memimpin Provinsi Banten, Bung Rano Karno juga pernah mengidap penyakit ini. Semakin saya mendalami semakin saya bingung. Maklum lah, saya bukanlah orang yang ahli di bidang kesehatan. Kebetulan profesi saya adalah PNS di Bidang Keuangan. Beralih ke topik permasalahan, semakin saya lihat berita-berita yang muncul, ternyata Bells Palsy pernah diderita oleh orang-orang terkenal lainnya, sebut saja Anjelina Jolie dan Samuel Zylgwyn. Dan mereka bisa sembuh dari penyakit ini. Dan banyak lagi kisah-kisah lainnya yang telah lebih dulu menuliskan pengalaman pribadi atau orang terdekat mereka yang berhasil melalui masa-masa suram terkena penyakit ini. Dan disitulah muncul tekad saya untuk berjuang bersama istri tercinta supaya penyakit ini bisa sembuh total.
Pada Sore harinya kami pun pergi ke dokter umum. Dan benar saja, dokter tersebut mengatakan bahwa istri saya memang terkena penyakit Bells Palsy. Beliau menjelaskan bahwa penyakit ini disebabkan oleh tidak berfungsinya saraf ke VII (saraf fascialis) yaitu syaraf motorik yang mengontrol bahagian wajah. Penyebab tidak berfungsinya syaraf ini ada beberapa macam, bisa karena angin duduk (angin yang mengendap di dekat di dekat telinga atau wajah lainnya karena terlalau banyak terpapar kipas angin atau naik sepeda motor terkena angin atau yang lainnya), bisa terkena bakteri, dan atau bisa terkena virus herpes. Kendala yang paling parah ketika terkena penyakit ini adalah tidak berfungsinya kelopak mata secara sempurna sehingga mata tidak bisa menutup secara sempurna dan walhasil mata pun menjadi kering. Jika dibiarkan terlalu lama bisa berakhibat fatal pada mata tersebut. Maka penderita Bells Palsy harus memakai pelindung mata atau simpel nya harus memakai kacamata yang mampu menahan hembuhan angin supaya tidak menyebabkan mata menjadi kering. Maka oleh dokter tersebut diberikan obat Cendo Lyters cair. Ini bisa diteteskan sebanyak mungin untuk pengganti air mata sementara yang ikut keruh akibat penyakit tersebut. Dan kemudian diberi lagi vitamin syaraf, yaitu methycobalamin dan antibiotik. Dan disarankan untuk kami agar sesering mungkin memanaskan wajah istri saya bisa dengan air panas dalam botol atau kompres pakai air hangat. Kemudian kami pun pulang ke rumah dengan berharap mungkin hanya kena angin duduk di wajah saja. Istri saya pun bercerita bahwa dulu pada waktu kecil, dia pernah kena mencong wajah sebelah. Pada waktu itu dibwakan orang tuanya ke orang pintar, dan hanya diolesi dengan daun kunyit yang dipanaskan dengan minyak zaitun penyakit tersebut sudah sembuh dengan cepat. 

Dan pada keesokan harinya, ternyata tidak ada perubahan yang terjadi. Malah tingkat gannguan simetris pada wajah sebelah kanan. Ekpresi wajah semakin tidak terkontrol. Yang ada hanyalah kondisi wajah sebelah yang tidak bisa berekspresi sama sekali alias kaku sedingin es. Kami pun semakin panik. Bagaimana ini bisa disembuhkan?? Di tengah pikiran yang sedang berperang melawan kenyataan, saya mencoba bersikap tenang. Sambil membaca lagi banyak referensi di internet, apa saja langkah yang harus ditempuh agar bisa terbebas dari penyakit ini. Di banyak refernsi tersebut banyak yang mengatakan si penderita harus di bawa ke dokter spesialis syaraf. Kebetulan saya dan istri berdomisili di daerah yang kurang memiliki kecakapan medis untuk dokter spesialis. Akhirnya saya dan istri pun pulang kampug ke kota kelahiran kami. Tempat dimana orang tua kami berdomisili. Kebetulan dokter spesialis disana memiliki catatan yang lebih baik dalam hal dokter spesialis. Namun sebagai langkah preventive lainnya, sebelum pulang kampung, saya dan istri pergi ke tukang pijat. Moga-moga ada solusi yang lebih jitu dalam penanganan penyakit ini. Dan setelah pulang dari tukang pijit pun, hasilnya sama saja. Tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik. Dan pada sore harinya kami pun pulang kampung. Dan berharap semoga usaha ini membuahkan hasil.
Setelah saya dan istri sampai di kampung halaman, keesokan harinya istri dan mertua pergi ke dokter spesialis penyakit dalam (saya kembali ke kota domisili dikarenakan harus bekerja sebagai PNS), yang dulunya menurut rumor yang beredar pernah menyembuhkan penyakit sejenis. Dan setelah berobat kesana, beliau mendiagnosis bahawasanya penyebab penyakit yang diderita istri saya adalah terkena virus herpes. Dan beliau pun memberikan dosis obat antivirus herpes berupa Acyclovir Tablet, Vitamin Syaraf berupa Methycobalamin Kapsul, Pereda rasa sakit berupa Sanexon, dan obat pencegah mag, karena istri saya mempunyai riwayat penyakit mag. Dan beliau juga menyarankan harus memakai masker dan kacamata agar angin tidak menerpa wajah secara langsung. Kemudian beliau juga menyarankan harus dibantu dengan terapi berupa pemanasan wajah dengan dikompres atau pakai air panas di botol atau bisa juga dengan teknik akupuntur wajah. Total biaya yang dikeluarkan pada saat berobat ini sekitar Rp 500 ribuan. Sangat menguras kantong.
Pada esok harinya, ternyata ada perubahan yang dialami. Namun masih diluar ekspektasi karena perubahan yang terjadi masih berskala minor alais kecil yaitu berupa perasaan yang lebih ringan oleh istri saya. Namun ekspresi wajah istri saya masih tetap sama. Dingin seperti es, tidak ada ekspresi. Ya Allah cobaan ini semakin membuat saya berfikir lebih keras lagi. Akhirnya diputuskan untuk pergi lagi menemui dokter lainnya yaitu dokter spesialis syaraf. Diagnosis dokter spesialis syaraf ini ternyata lebih kurang sama dengan dokter sebelumnya dan obat yang diberikan pun hampir sama.Tapi mungkin kualitasnya lebih bagus. Biaya yang dikeluarkan pun jauh lebih besar yaitu sekitar Rp 800 ribuan. Namun beliau mengatakan bahwa penanganan pertama untuk penyakit yang diderita istri saya ini sudah terlambat sekitar 4 atau 5 hari pasca virus mulai menyerang sistem syaraf ke VII (saraf fascialis) sehingga peluang sembuhnya akan menjadi lebih lama. Kami pun berdoa semoga ke depannya bisa lebih baik lagi. Ya benar saja, ada sedikit perubahan yang terjadi, perasaan yang lebih lega dari sebelumnya oleh istri saya. Namun tanda-tanda akan adanya perubahan ekspresi wajah istri saya belum ada kemajuan. Karena berlainan lokasi dengan istri, saya pun fokus belajar mandiri di internet apa saja yang harus dilakukan agar bisa terbebas dari penyakit ini. Saya percaya pasca diberikannya Acyclovir Tablet, sebenarnya virus yang menginfeksi tesebut sudah berhasil diredam. Namun perang besar selanjutnya yang akan memakan waktu lama adalah bagaimana mengembalikan fungsi syaraf motorik dan otot wajah tersebut kembali normal seperti sedia kala. Akhirnya saya menemukan cara memijat wajah pasca serangan Bells Palsy. Kita harus memijat wajah (sesuai gambar terlampir) tersebut setelah terlebih dahulu di panas-panaskan dengan banyak cara. Pertama, dengan menggunakan nasi panas yang dibungkus dengan serbet. Kedua, dengan menggunakan air hangat yang dibuat dalam dalam botol. Ketiga, dengan memanas-manaskan daun kunyit yang dilapisi dengan minyak zaitun dan mungkin banyak cara lainnya yang belum terpfikirkan oleh penulis dimana pada intinya pemanasan wajah tersebut harus aman untuk wajah. Tujuan pemanasan wajah ini adalah untuk merangsang kembali syaraf yang telah membeku tersebut agar mau kembali bekerja dengan normal.
Setelah dilakukan pemanasan pada bahagian wajah yang terkena Bells Palsy, barulah kita melakukan terapi pemijitan dan ini tidak boleh dilakukan serampangan. Karena pada dasarnya telah terjadi perubahan posisi otot wajah dari sedia kala. pemijatan harus dilakukan dari bagian tengah wajah menuju area telinga. Karena disekitar area telinga terdapat pusat saraf ke VII (saraf fascialis). Dan dari gambar dapat kita lihat ada cabang syaraf yang menjuntai. Jadi pemijatan harus dilakukan dari ujung syarafmenuju pangkal syaraf yang ada di dekat telinga. Pemijatan sebaiknya harus dibantu dengan minyak zaitun karena salah satu fungsi minyak zaitun adalah membantu perkembangan respon syaraf tersebut dan mencegah wajah menjadi lecet.
Satu hal yang harus dipahami dan diketahui adalah wajah yang terkena Bells Palsy ini sebenarnya mengalami pembengkakan akibat bergesernya posisi awal otot wajah ke posisi yang acak. Pemijatan harus dilakukan dengan hati dan cermat. Tidak boleh serampangan dan diperlukan kesabaran yang ekstra. Ada baiknya dilakukan dari bawah wajah kemudian ke tengah lalu diakhiri dengan bagian atas wajah. Atau bisa dilakukan sebaliknya. Hal ini bertujuan agar posisi otot wajah kembali pada semula dan tidak ada otot yang terlewatkan untuk dipijat. Hal fatal yang akan terjadi jika dilakukan dengan tidak benar, maka kecacatan permanen dapat terjadi. Hal ini akan sungguh membawa kerugian yang besar bagi si penderita. Karena akan selalu menjadi pertayaan bagi si penderita oleh keluarga, teman, atau kenalan dan lainnya ketika berjumpa pasca terjadinya serangan Bells Palsy ini. Daloam kasus ini, saya yang menangani istri yang sedang menjadi penderita memang agak suka dalam hal pijat memijat. Walaupun bukan ahli pijat, saya sudah memahami sedikit tentang ilmu memijat dari buku saku yang saya beli ketika dulu pernah tinggal di kota Bandung sekitar 7 tahun yang silam. Semoga yang menulis buku tersebut diberi keberkahan umur dan kelapangan rezeki.
Kembali ke soal cara memijat wajah si penderita Bells Palsy, tanda yang paling signifikan pada bahagian wajah yang terkena Bells Palsy adalah dengan cara membandingkan keadaan otot wajah yang tidak terkena Bells Palsy. Kita bisa menyentuh keduanya. Pada pemijatan bahagian wajah terkena Bells Palsy akan dirasakan oleh pemijat bahwa ada rasa "gluduk-gluduk" dan rasa sakit yang luar biasa ketika si penderita dipijat, padahal sentuhan yang diberikan adalah sentuhan biasa. Sedangkan pada wajah yang normal, tidak akan terasa apa-apa, malah akan tersa nikmat jika wajah tersebut mendapatkan pijatan. Dan hal ini pun dilakukan paling sedikit 3 kali sehari agar mendapatkan hal yang maksimal. Pada saat pemijatan, area mata adalah hal yang perlu diperhatikan karena si penderita akan kesakitan jika dilakukan tidak tepat.

Dan setelah obat yang diberikan dokter habis, kami pun pergi melakukan check up ke dokter syaraf untuk sekaligus konsultasi perkembangan penyakit istri saya. Kalau tidak salah sampai 3 x konsultasi lagi. Tentu dengan total biaya konsultasi mencapai 3 x @Rp. 500 ribuan per konsultasi. Lumayan mencekik bukan. He he. Lama kelamaan, dengan tetap meminum obat dari dokter dan terapi yang saya lakukan rutin kepada istri, rasa sakit akibat pembengkakan yang dialami olehnya semakin berkurang. Namun satu hal yang mengkhawatirkan saya adalah sudah hampir 4 minggu, tanda-tanda wajah bahagian kanan istri saya dapat mengontrol ototnya sendiri belum muncul. Saya pun kembali khawatir. Usaha apalagikah yang harus diperbuat. Bersyukurlah saya hidup di zaman adanya smartphone yang mana internet bisa menjadi penolong pertama agar bisa melakukan sessuatu yang masih awam bagi saya. Kembali saya menyibukkan diri dengan internet, apa saja terapi lain yang bisa dilakukan agar bisa terbebas dari efek kekakuan otot wajah pasca serangan Bells Palsy. Akhirnya saya menemukan tulisan berbahasa malaysia bahwa sanya akupuntur bisa menyembuhkan Bells Palsy. Dari pengalaman beliau, dari awal terkena Bells Palsy dari dia sembuh 98% adalah membutuhkan waktu sekitar 3 bulan. Dan setelah meminum obat dokter, beliau melakukan terapi rutin pada seorang shinsee yang dari tampilan sudah tua dan sangat berpengalaman. Ini alamat tulisannya , "http://1citemalaya.blogspot.co.id/2017/01/pengalaman-menghidap-bells-palsy-inilah.html". Dan dibeberapa video di youtube juga terdapat terapi pengangan Bells Palsy dengan menggunakan akupuntur. Dan harapan akan pengobatan kesembuhan penyakit Bells Palsy yang diderita istri saya pun kembali muncul.
Saya pun mulai berkeliling-keliling mencari tempat terapi akupuntur di kota tempat saya bekerja dan di kota kampung halaman saya. Sambil bertanya-tanya kepada keluarga, teman, atau kenalan apakah mereka mengetahui dimana ada buka prakterk akupuntur. Dan masih saja ujian itu muncul, saya tidak menemukan lokasi praktek akupuntur dan mereka pun tidak tahu. Ya Allah, sudah 1 bulan rasanya keceriaan rumah tangga ku berkurang setengah akibat istriku yang terkena serangan Bells Palsy tidak dapat tersenyum. Karena kalau istri saya tersenyum, sebelah wajahnya kaku dan yang terlihat adalah wajah sinis. Padahal istri saya sudah berusaha maksimal untuk tersenyum dan tidak ada maksud sama sekali berwajah sinis. Akibat dari itu, seringkali ketika istri saya tersenyum maka ditutupnya lah wajahnya sebelah. Sungguh menggoncang batin, saya pun terenyuh dan meleleh hatiku dan menangis dalam hati. Lama saya merenung, dan berdiam diri. Untuk sementara, saya pun berhenti dari aktivitas olahraga yang saya geluti. Fokus saya cuma satu, setelah bekerja, saya harus tetap browsing di internet untuk membaca pengalaman orang orang yang terkena Bells Palsy dan mempelajari gambar-gambar yang berkaitan dengan Bells Pasy.
Tiba-tiba saya terfikir dari semua terapi dan pengobatan yang sudah dijalani. Saya harus membawa istri saya kembali dari kota dimana orang tua kami tinggal. Saya sendirilah yang akan menjadi tabibnya. Dan sebagai antisipasi, saya meminta resep kepada dokter syaraf tersebut supaya bisa dibeli di apotek di kota saya tempat bekerja. Saya pun akan mencoba titik syaraf akupuntur tapi dengan metode penempelan koyo salonpas atau sejenis (sesuai dengan ketahanan masing-masing orang, kebetulan saya mencoba yang rasa normal) dengan dipotong kecil dengan ukuran 1 x 1 cm dan 1 x 3 cm sesuai dengan lokasi penempelan koyo tersebut. Karena pada prinsipnya syaraf harus dirangsang dengan panas, justru syaraf tidak akan bekerja ketika suhu dingin. Itulah prinsip dasar saya melakukan terapi dengan teknik ini. Namun sebelum dilakukan penempelan koyo, istri saya terlebih dahulu makan obat sesuai resep dokter. Kemudian wajah dipanasi dulu dengan air dalam botol, lalu dilakukan pemijatan dengan diolesi minyak zaitun (teknik pemijatan sesuai dengan gambar diatas). Barulah saya mulai metode baru, yaitu titik akunpuntur dengan penempelan koyo. Titik-titik yang ada di gambar dibawah adalah tempat dimana koyo akan di tempel. Dan harus dilakukan 3 x sehari. Kalau bisa sepanjang hari harus di tempeli dengan koyo.


Dan selang 2 bulan dari kejadian ini, alhamdulillah istri saya sudah kembali normal. Mungkin sudah 98% karena pasca serangan Bells Palsy si penderita dapat normal 100% jika sudah memakan waktu sampai dengan 9 bulan lamanya. Dibutuhkan perjuangan keras dan kesabaran agar si penderita dan keluarga dapat melalui masa-masa sulit. Karena pantangan untuk si penderita sangat kompleks. Tidak boleh terkena angin, sehingga jika bepergian harus memakai masker. Tidak boleh dingin, sehingga kemana-mana harus memakai jaket. Tidak boleh mandi air dingin, sehingga harus mandi pakai iar panas. Dan mudah-mudahan berguna bagi siapa saja yang membaca tulisan ini. Sekian dan wassalam.

Selasa, 04 November 2014

Trip to Pulau Bunaken (Kota Manado)

Selepas dari Perjalananku di Kota Makassar atau lebih tepatnya lanjutan catper turun dari Gunung Latimojong, pada tanggal 31 Mei 2014 pukul 09.10 WITA, pesawat Li*n Air membawa aq dan bro Herman lepas landas dari bandara Hasanuddin Makassar menuju bandara Sam Ratulangi (Manado). Ditengah perjalanan aq disuguhi pemandangan Teluk Tomini yang indah, sebuah teluk yang cukup besar di wilayah Propinsi Sulawesi Tengah (semoga suatu saat bisa berkunjung kesana). Dan pada waktu itu hari cukup cerah. Perjalanan dari Makassar – Manado via udara adalah 1 jam 40 menit. Dan kami pun sampai di Manado pada pukul 10.50  WITA. 




Jarak bandara Sam Ratulangi menuju kota Manado adalah 18 km. Kami pun menyewa travel untuk transportasi menuju kota Manado. Kalau boleh dibandingkan, jalanan kota Manado mirip dengan kota Pematangsiantar di Sumatera Utara. Jalanannya lumayan sempit dan berbukit-bukit. Yang membedakan keduanya adalah, kota Manado jauh lebih metropolitan karena memang merupakan ibukota Propinsi Sulawesi Utara dan merupakan daerah tujuan utama wisata di Indonesia. 

Kembali sedikit ke belakang, pada awalnya, rute perjalananku selanjutnya adalah Kepulauan Wakatobi (Taman Bawah Laut Wakatobi yang terkenal dengan Pari Manta). Namun setelah membaca beberapa referensi dan berfikir secara mendalam, untuk solo travel, Wakatobi belum bisa menjanjikan. Karena beberapa referensi menyatakan lebih baik membawa rombongan agar biaya yang ditanggung lebih murah karena fasilitas belum selengkap di Manado. 

Manado menarik minat saya karena dua hal, yang pertama adalah pesona Taman Bawah laut Bunaken dan yang kedua adalah Wanitanya yang terkenal cantik-cantik (perpaduan darah portugis, philipina dan china) yaitu berkulit putih dan berwajah oval. Dan dalam perjalanan ini, aq sangat menikmatinya karena keduanya sangat benar 100%. Top markotop lah. Namun satu hl yang membuat aq agak kecewa adalah kota Manado di berbagai sudut kotanya dan termasuk Pelabuhan Penyeberangan ke Pulau Bunaken, Siladen dan Manado Tua tidak cukup tertata dan banyak sampah.

Setelah sampai di Manado, kami pun mencari penginapan. Karena teman aq, Herman, sudah biasa ke Manado, kami pun jalan sendiri-sendiri. Aq lebih memilih menikmati suasana kota Manado. Dan dia pun sudah berjanji untuk bertemu dengan temannya di Manado Town Square.

Dengan bantuan peta wisata yang sudah aq cetak, tujuan utamaku adalah Zero Point. Ternyata tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap. Zero Point adalah pusat pertemuan angkot di Seluruh Kota Manado, dan juga merupakan titik Nol Km kota Manado. Zero Point merupakan Tugu yang berlambang Bola Dunia, yang melambangkan perdamaian. 


Dari Zero Point aq menuju sebuah Fly Over, yang ternyata belum selesai. Menurut penuturan masyarakat setempat, Fly Over tersebut akan membentuk sebuah jembatan yang bernama Jembatan Soekarno-Hatta. Yang akan menjadi solusi dari kemacetan yang melanda kota Manado beberapa tahun terakhir. 



Benar saja, setelah berjalan-jalan disekitaran pantai dekat tugu besar di tepi pantai, dan berkelanana di pasar sehati, untuk mencapai sisi kota Manado di seberang muara sungai yang cukup besar, hanya dihubungkan oleh sebuah jembatan saja. Kota Manado di sore hari sangatlah macet. 



Dan akhirnya, waktu magrib pun tiba. Tidak sengaja aq sholat di masjid Fath Awal (di wilayah Utara kota Manado), yang merupakan masjid pertama di kota Manado. Sebagai catatan, kota Manado didiami penduduk dengan komposisi 70 % beragama Kristen dan 27% beragama Islam.


Selepas sholat magrib, aq pun naik angkot menuju batas selatan kota Manado, yaitu terminal Malalayang. Dan akhirnya kembali ke penginapan.


Pada keesokan harinya, tanggal 1 Juni 2014 aq pun pergi ke Pelabuhan Marina, tempat kapal penyeberangan ke Bunaken. Pelabuhan Marina tepat berada dibawah Jembatan Layang Soekarno Hatta yang sedang dibangun. Karena biaya untuk sewa kapal lumayan mahal, maka aq menunggu beberapa orang yang bisa diajak bareng menuju Bunaken. Akhirnya aq bertemu dengan 3 orang. Kami pun berangkat menuju Pulau Bunaken memakai jasa boat sewa.




Sepanjang perjalanan merupakan pemandangan yang indah. Sesekali penyu dan berbagai macam ikan yang lumayan besar menampakkan dirinya. Dan setelah 40 menit, kami pun sampai di Pulau Bunaken. 



Disini qt bisa menyewa alat-alat snorkeling maupun diving. Plus ada paket sesi foto-foto bawah laut jika tidak membawa kamera Underwater. Sewa alat snorkeling lengkap (mask, snorkel, baju renang dan finch/kaki katak) adalah Rp. 150.000,- dan sewa jasa foto bawah laut adalah Rp. 350.000,-/per kapal untuk seratusan foto. Setelah memakai pakaian yang pas, kami pun bergerak menuju spot snorkeling dengan kapal boat yang tadinya kami tumpangi. Untuk paket diving mungkin agak mahal, kalau tidak salah mencapai Rp. 800.000,-/orang untuk beberapa kali penyelaman per harinya. Jangan lupa membawa biskuit untuk memancing ikan-ikan berada disekeliling qt dengan memberinya makan. Sekedar info, agar setelah bersnorkeling atau diving tidak kelaparan. Ada baiknya jika qt memesan menu ikan laut yang tersedia di beberapa warung makan yang ada disini (jika tidak membawa bontot sebelumnya).

Di bunaken, kelestarian terumbu karang begitu terjaga, sehingga tidak boleh sembarangan untuk melakukan snorkeling atau diving. Sehingga supir boat kami pun menjadi pemandu sekaligus guru dalam snorkeling kali ini. Kami pun sampai di spot snorkeling untuk yang pemula. Tampak dari kejauhan ada beberapa rombongan yang melakukan diving tidak terlalu jauh dari tempat kami akan bersnokeling ria.



Benar saja, air sangat jernih sekali dan ikannya sangat banyak. Ingin rasanya langsung menceburkan diri ke laut. Dan akhirnya, kami pun melompat ke laut setelah memakai peralatan degan lengkap.








Menurut penuturan dari guide yang membawa kami, spot ini adalah tempat syuting iklan stasiun TV RC*I dimana ketika zaman dulu masyhur dengan iklan melakukan diving di batas vegetasi terumbu karang yang dangkal dengan lau dalam sambil menunjukkan jempolnya menandakan “OK”. Dan kami pun berpose disini dengan bantuan guide, dengan cara mendorong kami ke bawah lalu di foto.




Setelah lelah, ternyata di kapal boat sudah tersedia kelapa muda yang langsung aq sambar, dan tampak dari kejauhan puncak gunung Pulau Manado Tua begitu gagah di tengah hari yang cerah.




Setelah lelah bersnorkeling ria, kami pun kembali ke Pulau Bunaken. Kemudian kami membersihkan diri di kamar mandi yang telah disewakan. Untuk mandi dengan air tawar qt bisa membeli 1 galon air tawar dengan harga Rp 10.000,-/galon. Karena makanan telah dipesan, kami pun makan siang dengan latar pemandangan laut yang cerah.






Dan akhirnya kami pun pulang kembali ke Manado, karena sudah terasa letih plus cuaca mulai gerimis, kami pun tertidur nyenyak dan akhirnya sampai kembali di Pelabuhan Marina, Manado. Pada malam harinya, aq berkeliling kota Manado sambil berjalan kaki dan tujuan utama ku adalah mencari souvenir khas Manado. Ada beberapa tempat penjualan souvenir tersebut yang terletak di Jalan Kawanua yang tidak terlalu jauh dari Pusat Kota Manado.




Dan keesokan harinya aq berangkat ke Bandara Sam Ratulangi, dengan pemandangan matahari terbit gagahnya gunung Klabat (1999 mdpl) dan kembali ke Jakarta dan melanjutkan perjalanan ke Sibolga. Demikian catper ku edisi pertama menjelajah Pulau Sulawesi, semoga selanjutnya bisa menjelajah Kepulauan Wakatobi, mendaki gunung Bawakaraeng, menikmati indahnya danau Poso dan teluk Tomini.  



Sampai jumpa di Catper selanjutnya, wasslam..... :) 

Minggu, 02 November 2014

Air Terjun Pulau Mursala (Langsung Jatuh Ke Laut) dan Pulau Putri

Pulau Mursala adalah pulau terbesar di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah. Pulau ini termasuk wilayah desa Tapian Nauli I, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara, Negara Indonesia dan terletak di sebelah Barat Daya Kota Sibolga dan berjarak 22,5 km dari Pandan, Kab. Tapanuli Tengah. Pulau Mursala mempunyai luas ± 8.000 ha dan dapat ditempuh melalui Pandan atau Sibolga menggunakan kapal cepat dalam waktu sekitar 1 jam atau menggunakan kapal biasa selama 3 jam. Pulau ini hanya dihuni oleh satu dusun saja. Sehingga sebagian besar dari pulau ini masih hutan belantara. Kalau teman-teman pernah menonton Film King Kong I, yang disitu dinyatakan tersebut ada disebut Pulau Sumatera, maka syuting Film tersebut dibuat disekitaran Pulau Mursala ini. Pulau Mursala juga merupakan benteng pertahanan bagi warga di Teluk Tapanuli atau Teluk Sibolga dari ancaman Tsunami. Karena ketika sebuah gelombang ombak sudah mencapai daratan atau dipecah gelombangnya oleh sesuatu, maka momentum energinya akan terlepaskan sebagian besar. Hal ini membuat gelombang Tsunami yang akan mencapai kota Sibolga dan Kab. Tapanuli Tengah aman dari gelombang Tsunami yang sangat tinggi. Ketika Tsunami Aceh tahun 2014 menghantam begitu dahsyatnya, maka Kota Sibolga dan Kab. Tapanuli Tengah hanya merasakan gelombang Tsunami yang hanya mencapai 1-2 meter saja karena sudah dihalangi oleh Pulau Mursala.

Pulau Mursala ini begitu unik yang membuat aq sangat tertarik ketika ada beberapa kawan yang mengusulkan agar pergi kesana. Pada tanggal 25 Oktober 2014 pukul 08.30 WIB, aq dan sekitar 20-an orang berangkat ke Pulau Mursala. Tujuan utamanya adalah Air Terjun Pulau Mursala. Kami berangkat dengan menggunakan kapal penumpang D*lphin dengan tiga mesin (sistem sewa/borongan). Karena kapasitas terbaik kapal tersebut adalah 15 orang supaya dapat melaju maksimal dan berhubung kami jumlahnya mencapai 30 orang beserta kru kapal, maka kapal tersebut berjalan agak lambat. :D





Waktu tempuh yang kami capai menuju sisi tengah Pulau Mursala adalah 2 jam. Akan tetapi, untuk menuju lokasi air terjun ini, maka kami harus menyusuri sisi sebelah utara Pulau tersebut. Waktu tempuhnya adalah 1,5 jam. Akhirnya kami pun sampai di air terjun tersebut. Bagi orang yang mempunyai imajinasi yang tinggi, ketika melihat  air terjun ini, maka imajinasinya akan terbayar lunas. Begitulah aq menggambarkan betapa indahnya air terjun ini.







Begitu kapal sudah agak mendekat ke air terjun, kami pun berlompatan ke dalam air. Bagi yang tidak bisa berenang agar melompat dengan memakai pelampung.




Tiba-tiba hujan lokal turun di sekitaran air terjun ini. Padahal langit sangat cerah dan akhirnya membuat kami bergegas berangkat ke tujuan selanjutnya yaitu Pulau Putri, yaitu berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari air terjun tersebut. Pulau Putri adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sisi dalam Mursala dan Pulau Sumatera, sehingga merupakan perairan yang sangat tenang dan sangat aman untuk para nelayan yang terkena badai di laut. Dan selang beberapa lama, kami pun sampai di Pulau Putri. Tujuan utama kami disini adalah untuk Snorkeling dan makan siang. Sayang pada saat kami pergi ke tempat ini, aq belum mempunyai kamera underwater dan satu pun dari kami tak ada yang mempunyai, sehingga tidak ada dokumentasi bawah laut yang bisa aq sajikan, dan ketika sudah punya kamera underwater dan berkunjung lagi kesini, maka tulisan ini akan aq update secepatnya. 





Ciri khas jenis ikan yang ada di perairan Pulau Putri, Pulau Mursala dan seluruh Teluk Sibolga adalah Ikan Nemo atau Ikan Badut. Ikan ini dijadikan tugu oleh Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah untuk maskot pariwisatanya dan ikan ini banyak diperjualbelikan di Pantai Pandan. Hati-hati, disini banyak terdapat bulu babi yang cukup besar, tapi kawan-kawan tidak usah khawatir. Karena bulu babi tersebut bersembunyi dibalik terumbu karang yang indah. Jadi sebaiknya memakai kaki katak atau memakai sandal gunung ketika melakukan snorkeling, sehingga kaki kita aman dan bebas dari bulu babi. dan jangan lupa membawa biskuit atau roti ketika snorkeling. Hal ini sangat berguna agar ikan-ikan yang cantik datang mendekat ke kita ketika berada di air. Berbagai jenis ikan terdapat disini, ikan nemo, ikan angel fish (hitam putih), anak ikan kueh (GT), anak ikan kembung, ikan berwarna merah jambu, hitam, biru, kuning, coklat, hijau, ikan teri, dan masih banyak lainnya.









Setelah puas bersnorkeling ria, kami pun santap siang karena makanan telah terhidang. Suasana laut yang begitu indah. Dan pada pukul 16.00 WIB kami pun bergegas kembali ke Pandan, dan sampai pada Pukul 17.30 WIB.




Puji Syukur kepada Allah SWT, Thanks to my friend : Bg Lukman, Bg Husein, dan Rekan-rekan Alkamil lainnya, Rekan-rekan kerja dari KPP Pratama Sibolga dan KPP Pratama Padangsidimpuan